Puisi “TUMBAL NASIB”

Bisikan lirih angin menemani dinginnya malam
Derasnya hujan memandikan raga
Suaranya bagai buluh perindu
Pikiran kini kusut layaknya benang di landa ayam

Tatapan pada langit yang penuh harapan
Berdiri tegar beralas bumi
Mencari keteduhan disetiap tempat yang kususuri
Sunyi, setiap lorong tdk terlihat seorangpun

Sendiri, berlari , dan pergi
Meski tahu disana tak ada seorang yang menanti
Entah dimana akan berakhir setiap kegundahan ini
Ingin kembali tapi tak untuk sembuhkan hati

Ingin paparkan, tak akan ada yang mengerti
Hanya bergantung di akar lapuk
Menjadi sebuah tumbal nasib
Dipeluk dingin kemarau yang bermulut sepi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s