KOLOID

Indikator

  1. Menjelaskan proses pembuatan Emulsi.
  2. Menjelaskan proses pembuatan Sol.
  3. Mengklasifikasikan Suspensi Kasar, Larutan Sejati, dan Koloid.
  4. Mengelompokkan jenis Koloid berdasarkan fase Terdispersi dan fase Pendispersi.
  5. Mendeskripsikan sifat – sifat Koloid seperti efek Tyndall , Gerak Brown Dialysis, Elektroforesis, dan Koagulasi.
  6. Menjelaskan Koloid Liofob dan Liofil.
  7. Mendeskripsikan peranan Koloid dalam industry kosmetik, makanan, dan Industri Farmasi.

 

  1. 1.       Larutan , Suspensi, dan Koloid

Campuran suatu zat dengan zat lain dikenal dengan nama system dispersi. Setiap system dispersi terdiri atas medium pendispersi dan zat terdispersi. Gula yang dilarutkan dalam air akan membentuk system dispersi dimana air disebut medium pendispersi (pelarut) dan gula sendiri disebut zat terdispersi (zat terlarut). Berdasarkan ukuran partikelnya, system dispersi dibedakan menjadi larutan sejati, koloid, suspensi kasar.

  1. A.     Larutan sejati

Larutan adalah campuran homogen dua zat atau lebih yang saling melarutkan dan masing-masing zat penyusunnya tidak dapat dibedakan lagi secara fisik.
larutan terdiri atas zat terlarut dan pelarut.

  1. B.     Suspensi kasar

Merupakan system dispersi dengan partikel berukuran relativ besar yang tersebar merata dalam medium pendispersinya.

  1. C.     Koloid

Koloid merupakan system dispersi dengan ukuran partikel yang lebih besar dari larutan sehingga dapat diamati dengan mikroskop ultra.

Perbedaan larutan sejati, Suspensi kasar, dan Koloid

No

Larutan Sejati

Suspensi kasar

Koloid

1

Homogen Heterogen Heterogen

2

Stabil Tidak Stabil Umumnya Stabil

3

Satu fase Dua fase Dua fase

4

Ukuran partikel kurang dari 1nm Lebih besar dari 100 nm Antara 1-100 nm

5

Tidak dapat disaring Dapat disaring Tidak dapat disaring

6

Jernih Keruh Agak keruh

 

  1. 2.       Sistem Koloid
  2. A.       Pengertian Sistem Koloid

Koloid adalah campuran heterogen dua fase dari dua zat atau lebih di mana partikel – partikel berukuran koloid tersebar/terdispersi merata dalam zat lain. Zat yang tersebar/terdispersi sebagai partikel koloid disebut fase terdispersi. Sedangkan zat yang merupakan fase kontinu dan menyatukan partikel koloid terdispersi disebut medium pendispersi.

  1. B.       Jenis – Jenis Koloid

Koloid dapat dikelompokkan berdasarkan fase terdispersi dan medium pendispersinya menjadi :

  1. Sol (fase terdispersi padat)

–  Sol padat adalah sol dalam medium pendispersi padat

Contoh: paduan logam, gelas warna, intan hitam

–  Sol cair adalah sol dalam medium pendispersi cair
Contoh: cat, tinta, tepung dalam air, tanah liat

–  Sol gas (Aerosol padat) adalah sol dalam medium pendispersi gas
Contoh: debu di udara, asap pembakaran.

  1. Emulsi (fase terdispersi cair)

–  Emulsi padat (Gel) adalah emulsi dalam medium pendispersi padat
Contoh: Jelly, keju, mentega, nasi

–  Emulsi cair adalah emulsi dalam medium pendispersi cair
Contoh: susu, mayones, krim tangan

–  Emulsi gas (Aerosol Cair) adalah emulsi dalam medium pendispersi gas
Contoh: hairspray dan obat nyamuk

  1. Buih (fase terdispersi gas)

–  Buih padat adalah buih dalam medium pendispersi padat
Contoh: Batu apung, marshmallow, karet busa, Styrofoa

–  Buih cair adalah buih dalam medium pendispersi cair
Contoh: putih telur yang dikocok, busa sabun

–  Untuk pengelompokan buih, jika fase terdispersi dan medium pendispersi sama-sama berupa gas, campurannya tergolong larutan

  1. C.       Sifat – Sifat Koloid
  2. Efek Tyndall

Efek Tyndall ialah gejala penghamburan berkas sinar (cahaya) oleh partikel-partikel koloid. Hal ini disebabkan karena ukuran molekul koloid yang cukup besar.

Efek tyndall adalah efek yang terjadi jika suatu larutan terkena sinar. Pada saat larutan sejati disinari dengan cahaya, maka larutan tersebut tidak akan menghamburkan cahaya, sedangkan pada sistem koloid, cahaya akan dihamburkan. hal itu terjadi karena partikel-partikel koloid mempunyai partikel-partikel yang relatif besar untuk dapat menghamburkan sinar tersebut. Sebaliknya, pada larutan sejati, partikel-partikelnya relatif kecil sehingga hamburan yang terjadi hanya sedikit dan sangat sulit diamati.

 

  1. Gerak Brown

Gerak Brown ialah gerakan partikel-partikel koloid yang senantiasa bergerak lurus tapi tidak menentu (gerak acak/tidak beraturan). Jika kita amati koloid dibawah mikroskop ultra, maka kita akan melihat bahwa partikel-partikel tersebut akan bergerak membentuk zigzag. Pergerakan zigzag ini dinamakan gerak Brown.

Partikel-partikel suatu zat senantiasa bergerak. Gerakan tersebut dapat bersifat acak seperti pada zat cair dan gas( dinamakan gerak brown), sedangkan pada zat padat hanya beroszillasi di tempat ( tidak termasuk gerak brown ). Untuk koloid dengan medium pendispersi zat cair atau gas, pergerakan partikel-partikel akan menghasilkan tumbukan dengan partikel-partikel koloid itu sendiri. Tumbukan tersebut berlangsung dari segala arah. Oleh karena ukuran partikel cukup kecil, maka tumbukan yang terjadi cenderung tidak seimbang. Sehingga terdapat suatu resultan tumbukan yang menyebabkan perubahan arah gerak partikel sehingga terjadi gerak zigzag atau gerak Brown.

Semakin kecil ukuran partikel koloid, semakin cepat gerak Brown yang terjadi. Demikian pula, semakin besar ukuran partikel koloid, semakin lambat gerak Brown yang terjadi. Hal ini menjelaskan mengapa gerak Brown sulit diamati dalam larutan dan tidak ditemukan dalam campuran heterogen zat cair dengan zat padat (suspensi). Gerak Brown juga dipengaruhi oleh suhu. Semakin tinggi suhu sistem koloid, maka semakin besar energi kinetik yang dimiliki partikel-partikel medium pendispersinya. Akibatnya, gerak Brown dari partikel-partikel fase terdispersinya semakin cepat. Demikian pula sebaliknya, semakin rendah suhu sistem koloid, maka gerak Brown semakin lambat.

 

 

  1. Elektroforesis

Elektroferesis ialah peristiwa pemisahan partikel koloid yang bermuatan dengan menggunakan arus listrik. Partikel koloid yang bermuatan positif akan menuju kutub negatif dan partikel koloid yang bermuatan negatif akan menuju ke kutub positif sehingga terjadi penetralan, akibatnya koloid akan menggumpal.

 

  1. Koagulasi

Koagulasi adalah penggumpalan partikel koloid dan membentuk endapan. Dengan terjadinya koagulasi, berarti zat terdispersi tidak lagi membentuk koloid. Koagulasi dapat terjadi secara fisik seperti pemanasan, pendinginan dan pengadukan atau secara kimia seperti penambahan elektrolit, pencampuran koloid yang berbeda muatan.

 

  1. D.       Bentuk Koloid
    1. Koloid Liofil

Koloid Liofil adalah koloid yang fase terdispersinya suka/menyerap cairan. Bila medium pendispersinya berupa air maka disebut hidrofil. Contoh : kanji, protein, lem, sabun, dan gelatin. Koloid liofil yang setengah padat disebut Gel. Contoh : agar – agar, lem, kanji, selai, dan jeli.

  1. Koloid Liofob

Koloid liofob adalah koloid yang fase terdispersinya tidak suka menyerap cairan. Bila medium pendispersinya air disebut hidrofob. Contoh : sol sulfide, sol logam Fe(OH)3.

Tabel Perbedaan koloid Liofil dan Liofob

Koloid Liofil

Koloid Liofob

Stabil dan mantap Kurang stabil
Mengadsorpsi mediumnya Tidak mengadsorpsi mediumnya
Terdiri atas zat organik Terdiri atas zat anorganik
Dapat dibuat dengan konsentrasi yang relative besar Hanya stabil pada konsentrasi kecil
Bermuatan listrik bergantung pada mediumnya Bermuatan listrik tertentu
Tidak menggumpal dengan penambahan elektrolit Menggumpal dengan penambahan elektrolit
Viskositas (kekentalan) tinggi Viskositas (kekentalan) rendah
Viskositas lebih besar daripada mediumnya Viskositas hamper sama dengan mediumnya
Untuk koagulasi memerlukan banyak elektrolit (sulit terkoagulasi) Untuk koagulasi memerlukan sedikit elektrolit (mudah terkoagulasi)
Bersifat reversible (bila sudah terkoagulasi dapat dengan mudah dijadikan koloid lagi Bersifat irreversible (bila sudah menggumpal sulit dikoloidkan lagi
Kurang menunjukkan gerak brown Gerak Brown sangat jelas
Efek Tyndall lemah Efek Tyndall lebih jelas
Umumnya dibuat dengan cara dispersi Hanya dibuat dengan cara kondensasi
Partikel terdispersinya mengadsorpsi molekul Partikel terdispersinya mengadsorpsi ion
Contoh koloid : koloid logam, darah, koloid Fe(OH)3 Contoh koloid : sabun, deterjen, agar-agar, kanji, dan gelatin

 

  1. E.     Koloid Sol
    1. Pembuatan Koloid Sol

Ukuran partikel koloid berada di antara partikel larutan dan suspensi, karena itu cara pembuatannya dapat dilakukan dengan memperbesar partikel larutan atau memperkecil partikel suspensi. Maka dari itu, ada dua metode dasar dalam pembuatan iystem koloid sol, yaitu:

–          Metode kondensasi yang merupakan metode bergabungnya partikel-partikel kecil larutan sejati yang membentuk partikel-partikel berukuran koloid.

–          Metode dispersi yang merupakan metode dipecahnya partikel-partikel besar sehingga menjadi partikel-partikel berukuran koloid.

 

  1. Metode Kondensasi

Pembuatan koloid sol dengan metode ini pada umumnya dilakukan dengan cara kimia (dekomposisi rangkap, hidrolisis, dan redoks) atau dengan penggatian pelarut. Cara kimia tersebut bekerja dengan menggabungkan partikel-partikel larutan (atom, ion, atau molekul) menjadi pertikel-partikel berukuran koloid.

(i)   Reaksi dekomposisi rangkap

Misalnya:

–  Sol As2S3 dibuat dengan gaya mengalirkan H2S dengan perlahan-lahan melalui larutan As2O3 dingin sampai terbentuk sol As2S3 yang berwarna kuning terang :
As2O3 (aq) + 3H2S(g) → As2O3 (koloid) + 3H2O(l)
(Koloid As2S3 bermuatan negatif karena permukaannya menyerap ion S2-)

–  Sol AgCl dibuat dengan mencampurkan larutan AgNO3 encer dan larutan HCl encer;
AgNO3 (ag) + HCl(aq) → AgCl (koloid) + HNO3 (aq)

(ii)     Reaksi hidrolisis

Hidrolisis adalah reaksi suatu zat dengan air. Misalanya:

–  Sol Fe(OH3) dapat dibuat dengan hidrolisis larutan FeCl3 dengan memanaskan larutan FeCl3 atau reaksi hidrolisis garam Fe dalam air mendidih;
FeCl3 (aq) + 3H2O(l) → Fe(OH)3 (koloid) + 3HCl(aq)
(Koloid Fe(OH)3 bermuatan positif karena permukaannya menyerap ion H+)

–  Sol Al(OH)3 dapat diperoleh dari reaksi hidrolisis garam Al dalam air mendidih;
AlCl3 (aq) + 3H2O(l) → Al(OH)3 (koloid) + 3HCl(aq)

(iii)   Reaksi reduksi-oksidasi (redoks)

Misalnya:

–  Sol emas atau sol Au dapat dibuat dengan mereduksi larutan garamnya dengan melarutkan AuCl3 dalam pereduksi organic formaldehida HCOH;
2AuCl3 (aq) + HCOH(aq) + 3H2O(l) → 2Au(s) + HCOOH(aq) + 6HCl(aq)

–  Sol belerang dapat dibuat dengan mereduksi SO2 yang terlarut dalam air dengan mengalirinya gas H2S ;
2H2S(g) + SO2 (aq) → 3S(s) + 2H2O(l)

(iv)   Penggatian pelarut

Cara ini dilakukan dengan mengganti medium pendispersi sehingga fasa terdispersi yang semulal arut setelah diganti pelarutanya menjadi berukuran koloid. Misalnya :

–       untuk membuat sol belerang yang sukar larut dalam air tetapi mudah larut dalam alkohol seperti etanol dengan medium pendispersi air, belarang harus terlenih dahulu dilarutkan dalam etanol sampai jenuh. Baru kemudian larutan belerang dalam etanol tersebut ditambahkan sedikit demi sedikit ke dalam air sambil diaduk. Sehingga belerang akan menggumpal menjadi pertikel koloid dikarenakan penurunan kelarutan belerang dalam air.

–       Sebaliknya, kalsium asetat yang sukar larut dalam etanol, mula-mula dilarutkan terlebih dahulu dalam air, kemudianbaru dalam larutan tersebut ditambahkan etanol maka terjadi kondensasi dan terbentuklah koloid kalsium asetat.

  1. Metode Dispersi

Metode ini melibatkan pemecahan partikel-partikel kasar menjadi berukuran koloid yang kemudian akan didispersikan dalam medium pendispersinya. Ada 3 cara dalam metode ini, yaitu:

(i)            Cara Mekanik

Cara mekanik adalah penghalusan partikel-partikel kasar zat padat dengan proses penggilingan untuk dapat membentuk partikel-partikel berukuran koloid. Alat yang digunakan untuk cara ini biasa disebut penggilingan koloid, yang biasa digunakan dalam:

–       industri makanan untuk membuat jus buah, selai, krim, es krim,dsb.

–       Industri kimia rumah tangga untuk membuat pasta gigi, semir sepatu, deterjen, dsb.

–       Industri kimia untuk membuat pelumas padat, cat dan zat pewarna.

–       Industri-industri lainnya seperti industri plastik, farmasi, tekstil, dan kertas.

þ Sistem kerja alat penggilingan koloid:

Alat ini memiliki 2 pelat baja dengan arah rotasi yang berlawanan. Partikel-partikel yang kasar akan digiling melalui ruang antara kedua pelat baja tersebut. Kemudian, terbentuklah partikel-partikel berukuran koloid yang kemudian didispersikan dalam medium pendispersinya untuk membentuk sistem koloid. Contoh kolid yang dibuat adalah; pelumas, tinta cetak, dsb.

(ii)          Cara peptisasi

Cara peptisasi adalah pembuatan koloid / sistem koloid dari butir-butir kasar atau dari suatu endapan / proses pendispersi endapan dengan bantuan suatu zat pemeptisasi (pemecah). Zat pemecah tersebut dapat berupa elektrolit khususnya yang mengandung ion sejenis ataupun pelarut tertentu.
Contoh:

–   Agar-agar dipeptisasi oleh air ; karet oleh bensin.

–   Endapan NiS dipeptisasi oleh H2S ; endapan Al(OH) 3 oleh AlCl3.

–   Sol Fe(OH) 3 diperoleh dengan mengaduk endapan Fe(OH) 33 yang baru terbentuk dengan sedikit FeCl3. Sol Fe(OH) 3 kemudian dikelilingi Fe+3 sehingga bermuatan positif

–   Beberapa zat mudah terdispersi dalam pelarut tertentu dan membnetuk sistem kolid. Contohnya; gelatin dalam air.

(iii)        Cara Busur Bredig

Cara busur Bredig ini biasanya digunakan untuk membuat sol-sol logam, sperti Ag, Au, dan Pt. Dalam cara ini, logam yang akan diubah menjadi partikel-partikel kolid akan digunakan sebagai elektrode. Kemudian kedua logam dicelupkan ke dalam medium pendispersinya (air suling dingin) sampai kedua ujungnya saling berdekatan. Kemudian, kedua elektrode akan diberi loncatan listrik. Panas yang timbul akan menyebabkan logam menguap, uapnya kemudian akan terkondensasi dalam medium pendispersi dingin, sehingga hasil kondensasi tersebut berupa pertikel-pertikel kolid. Karena logam diubah jadi partikel kolid dengan proses uap logam, maka metode ini dikategorikan sebagai metode dispersi.

  1. Pemurnian Sol

Seringkali terdapat zat-zat terlarut yang tidak diinginkan dalam suatu pembuatan suatu sistem koloid. Partikel-partikel tersebut haruslah dihilangkan atau dimurnikan guna menjaga kestabilan kolid. Ada beberapa metode pemurnian yang dapat digunakan, yaitu:

  1. Dialisis

Dialisis adalah proses pemurnian partikel koloid dari muatan-muatan yang menempel pada permukaannya. Pada proses dialisis ini digunakan selaput semipermeabel. Pergerakan ion-ion dan molekul – molekul kecil melalui selaput semipermiabel disebut dialysis. Suatu koloid biasanya bercampur dengan ion-ion pengganggu, karena pertikel koloid memiliki sifat mengadsorbsi. Pemisahan ion penggangu dapat dilakukan dengan memasukkan koloid ke dalam kertas/membran semipermiabel (selofan), baru kemudian akan dialiri air yang mengalir. Karena diameter ion pengganggu jauh lebih kecil daripada kolid, ion pengganggu akan merembes melewati pori-pori kertas selofan, sedangkan partikel kolid akan tertinggal.

Proses dialisis untuk pemisahan partikel-partikel koloid dan zat terlarut dijadikan dasar bagi pengembangan dialisator. Salah satu aplikasi dialisator adalah sebagai mesin pencuci darah untuk penderita gagal ginjal. Jaringan ginjal bersifat semipermiabel, selaput ginjal hanya dapat dilewati oleh air dan molekul sederhana seperti urea, tetapi menahan partikel-partikel kolid seperti sel-sel darah merah.

  1. Elektrodialisis

Pada dasarnya proses ini adalah proses dialysis di bawah pengaruh medan listrik. Cara kerjanya; listrik tegangan tinggi dialirkan melalui dua layer logam yang menyokong selaput semipermiabel. Sehingga pertikel-partikel zat terlarut dalam sistem koloid berupa ion-ion akan bergerak menuju elektrode dengan muatan berlawanan. Adanya pengaruh medanlistrik akanmempercepat proses pemurnian sistem koloid.

Elektrodialisis hanya dapat digunakan untuk memisahkan partikel-partikel zat terlarut elektrolit karena elektrodialisis melibatkan arus listrik.

  1. Penyaring Ultra

Partikel-partikel kolid tidak dapat disaring biasa seperti kertas saring, karena pori-pori kertas saring terlalu besar dibandingkan ukuran partikel-partikel tersebut. Tetapi, bila kertas saring tersebut diresapi dengan selulosa seperti selofan, maka ukuran pori-pori kertas akan sering berkurang. Kertas saring yang dimodifikasi tersebut disebut penyaring ultra.

Proses pemurnian dengan menggunakan penyaring ultra ini termasuklambat, jadi tekanan harus dinaikkan untuk mempercepat proses ini. Terakhir, partikel-pertikel koloid akan teringgal di kertas saring. Partikel-partikel kolid akan dapat dipisahkan berdasarkan ukurannya, dengan menggunakan penyaring ultra bertahap.

  1. F.      Koloid Emulsi

Emulsi adalah campuran antara partikel-partikel suatu zat cair (fase terdispersi) dengan zat cair lainnya (fase pendispersi) dimana satu campuran yang terdiri dari dua bahan tak dapat bercampur, dengan satu bahan tersebar di dalam fasa yang lain. Dikarenakan setiap bahan pangan memilki karakteristik masing-masing maka setiap bahan pangan memiliki jenis emulsi dan pengaruh jenis emulsi yang berbeda-beda.

Salah satu dari zat cair tersebut tersebar berbentuk butiran-butiran kecil kedalam zat cair yang lain distabilkan dengan zat pengemulsi (emulgator/emulsifiying/surfactan).

Emulsi tersusun atas tiga komponen utama, yaitu:

 Fase terdispersi (zat cair yang terbagi-bagi menjadi butiran kecil kedalam zat cair lain (fase internal).

• Fase pendispersi (zat cair yang berfungsi sebagai bahan dasar (pendukung) dari emulsi tersebut (fase eksternal).

• Emulgator(zat yang digunakan dalam kestabilan emulsi).

  1. Jenis – jenis Emulsi

(i)  Emulsi gas (aerosol cair )

Emulsi gas merupakan emulsi dengan fase terdispersinnya berupa fase cair dan medium pendispersinnya berupa gas.Salah satu contohnya  hairspray, dimana dapat membentuk emulsi gas yang diingikan karena adannya bantuan bahan pendorong atau propelan aerosol

(ii)  Emulsi cair

Emulsi cair merupakan emulsi dengan fase terdispersinya maupun pendispersinnya berupa fase cairan yang tidak saling melarutkan karena kedua fase  bersifat polar dan  non polar.Emulsi ini dapat digolongkan menjadi 2 jenis yaitu emulsi minyak didalam air contoh susu terdiri dari lemak sebagai fase terdispersi dalam air jadi butiran minyak didalam air atau emulsi air dalam minyak contoh margarine terdispersi dalam minyak jadi butiran air dalam minyak.

(iii)   Emulsi padat

Emulsi padat merupakan emulsi dengan fase terdispersinnya cair dengan fase pendispersinnya berupa fase padat.Contoh : Gel yang dibedakan menjadi gel elastic dan gel non elastic dimana gel elastic ikatan partikelnya tidak kuat sedangkan non elastic ikatan antar partikelnya membentuk ikatan kovalen yang kuat. Ada dua jenis gel, yaitu:

–   Gel elastic

Karena ikatan partikel pada rantai adalah adalah gaya tarik-menarik yang relatif tidak kuat, sehingga gel ini bersifat elastis. Maksudnya adalah gel ini dapat berubah bentuk jika diberi gaya dan dapat kembali ke bentuk awal bila gaya tersebut ditiadakan. Gel elastis dapat dibuat dengan mendinginkan sol iofil yang cukup pekat. Contoh gel elastis adalah gelatin dan sabun.

–   Gel non-elastis

Karena ikatan pada rantai berupa ikatan kovalen yang cukup kuat, maka gel ini dapat bersifat non-elastis. Maksudnya adalah gel ini tidak memiliki sifat elastis, gel ini tidak akan berubah jika diberi suatu gaya. Salah satu contoh gel ini adalah gel silica yang dapat dibuat dengan reaksi kia; menambahkan HCl pekat ke dalam larutan natrium silikat, sehingga molekul-molekul asam silikat yang terbentuk akan terpolimerisasi dan membentuk gel silika.

Beberapa sifat gel yang penting adalah:

–   Hidrasi

Gel non-elastis yang terdehidrasi tidak dapat diubah kembali ke bentuk awalanya, tetapi sebaliknya, gel elastis yang terdehidrasi dapat diubah kembali menjadi gel elastis dengan menambahkan zat cair.

–   Menggembung (swelling)

Gel elastis yang terdehidrasi sebagian akan menyerap air apabila dicelupkan ke dalam zat cair. Sehingga volum gel akan bertambah dan menggembung.

–   Sineresis

Gel anorganik akan mengerut bila dibiarkan dan diikuti penetesan pelarut, dan proses ini disebut sineresis.

–   Tiksotropi

Beberapa gel dapat diubah kembali menjadi sol cair apabila diberi agitasi atau diaduk. Sifat ini disebut tiksotropi. Contohnya adalah gel besi oksida, perak oksida, dsb.

  1. Proses Pembuatan Emulsi

(i)       Mekanisme secara kimia

Mekanisme secara kimia dapat kita jelaskan pada emulsi air dan minyak. Air dan minyak dapat bercampur membentuk emulsi cair apabila suatu pengemulsi ditambahkan, karena kebanyakan emulsi adalah dispersi air dalam minyak dan dispersi minyak dalam air, sehingga emulgator yang digunakan harus dapat larut dalam air maupun minyak. Contoh pengemulsi tersebut adalah senyawa organik yang mempunyai gugus hidrofilik dan hidrofobik, bagian hidrofobik akan berinteraksi dengan minyak sedangkan yang hidrofilik dengan air sehingga terbentuklah emulsi yang stabil.

(ii)     Mekanisme secara fisika

Secara fisika emulsi dapat terbentuk karena adanya pemasukan tenaga misalnya dengan cara pengadukan. Dengan adanya pengadukan maka fase terdispersinya akan tersebar merata ke dalam medium pendispersinya.

  1. Penerapan Emulsi dalam Pembuatan Skin Scream

Skin Cream adalah sediaan cair berupa suspensi atau dispersi yang digunakan sebagai obat luar dapat berbentuk suspensi zat padat dalam serbuk halus dengan bahan pensuspensi yang cocok , emulsi tipe o/w dengan surfaktan yang cocok.. Krim tangan dan badan adalah sediaan dan kosmetika yang digunakan untuk maksud melindungi kulit supaya tetap halus dan lembut dan kering, bersisik danmudah pecah. (Formularium Kosmetika Indonesia, 1985, 330-357). Asam stearat merupakan bahan dasar dalam pembuatan skin cream yang merupakan pelembab alami, sehingga membantu menjaga kelembaban kulit (Anonim, 2008). Trietanolamina (TEA) berfungsi sebagai emulgator atau bahan pengemulsi. Bahan ini berfungsi agar mencegah terjadinya koalesen dan terpisahnya cairan dispersi sebagai zat pemisah (Anonim, 2009). Gliserin dalampembuatan skin cream berfungsi sebagai pelembut untuk menjaga kehalusan dan kelembutan kulit (Nugraha, 2009). Parfum pada pembuatan skin cream  digunakan sebagai pewangi sedangkan penambahan lidah buaya berfungsi sebagai pelembab karena kandungan lignin yang  terdapat  pada lidah buaya mampu menembus dan meresap ke dalam kulit, dan dapat membuat pertahanan hilangnya cairan tubuh dari permukaan kulit, sehingga kulit tidak cepat kering dan tetap terjaga kelembapannya (Minarsih, 2007).

  1. G.    Peranan Koloid dalam Industri kosmetik, makanan, dan Industri farmasi

Koloid umunya dijumpai dalam kehidupan sehari-hari, seperti di alam (tanah, air dan udara), industry, kedokteran, system kehidupan, dan pertanian. Di industry, aplikasi koloid untuk produksi cukup luas. Hal ini disebabkan siat salah satu koloid yang penting, yaitu mencampur zat-zat yang tidak dapat saling melarutkan guna mendapatkan campuran homogen dan stabil untuk produksi skala besar. Adapun beberapa peranan koloid antara lain :

  1. Dalam Industri Kosmetik, system koloid dimanfaatkan untuk membuat bedak, lipstick, shampoo, dan berbagai krim perawat kulit.
  2. Dalam Industri Makanan dan Minuman, dimanfaatkan untuk pembuatan susu, saus, jus, santan, dan biscuit.
  3. Dalam Industri Farmasi, misalnya obat-obatan dalam bentuk sirop dan serbuk dalam kapsul.

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s